Isu kesehatan kembali menjadi sorotan di Jakarta, menyusul temuan tujuh kasus cacar monyet di Jakarta Selatan dan langkah vaksinasi yang sudah menjangkau ratusan warga. Di saat yang sama, peringatan soal pentingnya empati terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) juga mencuat dari Jakarta Barat. Rangkaian peristiwa pada Selasa (31/10) itu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan publik di ibu kota tak hanya soal penanganan medis, tetapi juga soal kepedulian sosial dan cara warga merespons kelompok yang rentan.
Tujuh Kasus Cacar Monyet Ditemukan di Jakarta Selatan
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Yudi Dimyati, menyebut pihaknya telah mendeteksi tujuh kasus cacar monyet atau monkey pox/mpox di wilayah tersebut. Para pasien kini menjalani perawatan sekaligus isolasi di rumah sakit.
“Semua pasien telah dirawat dan diisolasi di RSUD di Jakarta Selatan dan RSPI Sulianti Saroso,” ujar Yudi saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk memperkuat pola hidup sehat agar risiko penularan dapat ditekan. Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan publik menjadi penting, terutama agar masyarakat tidak lengah saat gejala atau potensi kontak muncul di lingkungan sekitar.
Vaksinasi Mpox Sasar 189 Warga
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Sudinkes Jakarta Selatan telah melakukan vaksinasi kepada 189 warga. Program itu berlangsung pada 23 Oktober hingga 30 Oktober dan kini selesai dilaksanakan, sebelum dievaluasi lebih lanjut oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Yudi menjelaskan, vaksinasi Mpox tidak dibuka secara umum. Pelaksanaannya dilakukan melalui poliklinik layanan HIV, IMS, serta lembaga swadaya masyarakat yang menjangkau populasi kunci. Pola ini dipilih agar pencegahan bisa lebih terarah dan tepat sasaran.
Seruan Agar ODHA Tak Lagi Didiskriminasi
Di Jakarta Barat, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mengingatkan warga agar tidak mengucilkan orang dengan HIV/AIDS. Seruan ini muncul setelah adanya kasus ODHA di Cengkareng Timur dan Duri Kepa yang bahkan disebut ingin diusir oleh keluarganya sendiri.
“Ada kasus ODHA di Cengkareng Timur dan Duri Kepa yang ingin diusir oleh keluarganya,” kata Sekretaris KPA Jakarta Barat, Soekarno, dalam workshop bertajuk “Membangun Kemitraan dalam Pembiayaan Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS)” di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa.
Pesan yang muncul dari dua isu kesehatan ini cukup jelas: penanganan penyakit tidak cukup berhenti pada perawatan, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang tidak menambah beban psikologis bagi pasien maupun ODHA. Di tengah temuan kasus dan upaya pencegahan, Jakarta masih dihadapkan pada pekerjaan rumah lama: membangun kesadaran warga agar tetap waspada tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












