Makanan dan Minuman Olahan: Peluang Obesitas

Iklan makanan dan minuman olahan kini hadir hampir di setiap ruang yang dilihat masyarakat: layar ponsel, televisi, hingga papan reklame di jalan. Di balik kemasan yang terlihat menarik dan janji rasa yang menggoda, ada persoalan yang kian disorot para ahli kesehatan, yakni paparan promosi produk tidak sehat yang terus membentuk kebiasaan makan, terutama pada anak dan remaja.

Promosi Digital Dorong Paparan Sejak Usia Dini

Nutrition Specialist UNICEF Indonesia, David Colozza, menegaskan bahwa promosi makanan tidak sehat terus meningkat, khususnya lewat kanal digital. Anak-anak di Indonesia, kata dia, kini semakin sering terpapar pemasaran makanan tidak sehat secara daring. Situasi ini membuat iklan bukan sekadar alat promosi, melainkan faktor yang ikut memengaruhi pilihan konsumsi sehari-hari.

UNICEF bersama U-Report dan FixMyFood juga menelusuri dampak iklan makanan dan minuman terhadap kesehatan masyarakat. Hasil survei menunjukkan sebagian besar responden memang kerap melihat iklan makanan tidak sehat, terutama melalui media sosial dan internet. Dari temuan itu, 60 persen responden mengaku melihat promosi yang menampilkan atlet, selebritas, influencer, atau karakter kartun, unsur yang dinilai mudah menarik perhatian, khususnya bagi kelompok muda.

Risiko Kesehatan Kian Besar

Produk yang paling sering dipromosikan umumnya berada di atas ambang batas gizi yang disarankan. Pola ini dinilai berisiko memicu kelebihan berat badan, obesitas, dan berbagai gangguan kesehatan lain. Kondisi tersebut makin rumit karena banyak anak dan remaja juga kurang bergerak, sementara pilihan makanan sehat yang terjangkau belum selalu mudah dijangkau.

Di titik inilah iklan menjadi lebih berpengaruh. Saat makanan sehat sulit diakses dan paparan promosi makanan olahan terus berulang, anak-anak cenderung kesulitan membuat keputusan yang benar-benar sehat. Bagi sebagian anak muda, iklan bukan hanya terlihat, tetapi juga mendorong mereka untuk memilih produk yang sebenarnya perlu dibatasi.

Peringatan Kemenkes: Gula, Garam, Lemak Harus Dikendalikan

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan. Ia menyoroti bahwa obesitas terus meningkat dan telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Menurutnya, penyakit tidak menular seperti stroke dan penyakit jantung yang banyak berujung pada kematian sebenarnya dapat dicegah, setidaknya melalui pengendalian pola makan dan kebiasaan hidup. Karena itu, konsumsi makanan dan minuman olahan perlu dikendalikan sebelum dampaknya meluas menjadi masalah kesehatan yang lebih berat.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.