Aplikasi Bejakeun: Solusi Antiperundungan dari SMPN 43 Bandung

Bullying atau perundungan merupakan masalah serius yang sering terjadi di lingkungan sekolah dan dapat memiliki dampak negatif secara psikologis dan sosial terhadap korban. Menurut laporan Tempo pada tahun 2023, sebanyak 2 dari 3 anak usia 13-17 tahun mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Untuk mengatasi masalah ini, SMPN 43 Bandung memperkenalkan aplikasi Bejakeun sebagai solusi. Aplikasi ini dikembangkan oleh seorang guru agama di SMPN 43 Bandung, Ilham Fauji, dan bertujuan untuk memerangi perundungan di sekolah.

Inovasi teknologi, seperti aplikasi Bejakeun, telah menjadi bagian dari upaya dalam menurunkan angka perundungan di lingkungan pendidikan. Pada tahun 2024, aplikasi ini bahkan memenangkan penghargaan AIA Outstanding Mental Wellbeing Award di ajang kompetisi sekolah sehat se-Asia Pasifik. Program ROOTS yang dimiliki Dinas Pendidikan Kota Bandung juga turut berperan dalam upaya menekan angka perundungan di sekolah-sekolah.

Bejakeun memiliki tujuan utama, antara lain mencegah perundungan, meningkatkan kesadaran akan bahaya perundungan, menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, dan memudahkan pelaporan perundungan di sekolah. Nama “Bejakeun” diambil dari bahasa Sunda yang artinya “laporkan” dan juga merupakan akronim dari slogan antiperundungan. Aplikasi ini memperjelas jenis-jenis bullying yang mungkin terjadi sesuai dengan peraturan yang berlaku dan memungkinkan pengguna untuk melaporkan kejadian perundungan secara anonim.

Meskipun aplikasi ini baru tersedia untuk perangkat Android, aplikasi Bejakeun telah diterima dengan baik oleh masyarakat pendidikan. Laporan yang masuk akan ditindaklanjuti oleh Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di sekolah, yang akan mengidentifikasi kasus, merancang strategi penanganan, dan melibatkan guru BK, tim kesiswaan, serta perwakilan orang tua. Aplikasi Bejakeun diharapkan dapat menjadi salah satu solusi efektif untuk menangani perundungan di lingkungan sekolah.

Source link