Otak yang berfungsi optimal adalah kunci untuk menjalani hidup yang berkualitas. Asupan makanan dan minuman yang bergizi sangat penting dalam menjaga kesehatan otak. Gula dan pemanis sering menjadi perdebatan terkait dampaknya pada otak manusia, yang merupakan pusat kendali tubuh yang kompleks. Otak memerlukan energi yang cukup, dan sebagian besar energinya diperoleh dari glukosa atau bentuk sederhana dari gula.
Menurut Psychology Today, glukosa dikenal sebagai bahan bakar utama yang diperlukan oleh tubuh untuk memproduksi energi. Meskipun gula sering dianggap sebagai musuh dalam kesehatan gizi, dampaknya tergantung pada jenis dan kandungan gula yang dikonsumsi. Namun, tubuh manusia dapat memproduksi glukosa sendiri dari karbohidrat yang dikonsumsi tanpa memerlukan gula tambahan.
Pemanis tambahan atau pemanis buatan dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh, termasuk otak. Berbagai studi menunjukkan bahwa konsumsi gula dan pemanis tambahan dapat mempengaruhi metabolisme, peradangan, stres oksidatif, dan mikrobioma usus yang berperan penting dalam fungsi otak. Konsumsi berlebihan gula alami seperti gula tebu, molase, atau gula maple juga diyakini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.
Meskipun terdapat manfaat dari konsumsi gula tertentu seperti madu, konsumsi berlebihan gula tambahan dapat meningkatkan risiko depresi. Selain itu, pemanis buatan seperti sakarin, aspartam, atau sukralosa memiliki kelebihan dan kekhawatan yang perlu dipertimbangkan dalam hubungannya dengan kesehatan otak. Anda perlu berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi untuk menjaga kesehatan otak dan tubuh secara keseluruhan.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Tempo, Haris S. menyumbangkan informasi yang berguna untuk mengetahui dampak gula dan pemanis buatan terhadap kesehatan otak. Membaca artikel ini akan membantu Anda memahami lebih lanjut tentang cara menjaga kesehatan otak dengan bijak dalam memilih asupan gula dan pemanis.












