8 Tips Mencegah Anak Jadi Pelaku Bullying

Bullying atau perundungan merupakan masalah serius yang menyentuh hampir semua anak baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi. Untuk mencegah perilaku ini, kita perlu mengetahui alasan anak bisa menjadi pelaku bullying.

Anak-anak yang melakukan bullying tidak selalu anak nakal. Mereka sering kali adalah anak baik yang melakukan tindakan buruk. Ada berbagai alasan seorang anak bisa menjadi pembully. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan akan kekuasaan, kurangnya empati, perasaan berhak atas sesuatu (entitlement), dorongan untuk menjadi populer, hingga rasa iri dan harga diri yang rendah. Mereka mungkin berasal dari rumah tangga yang tidak sehat, menyaksikan kekerasan atau dominasi salah satu orang tua, atau bahkan menjadi korban kekerasan itu sendiri.

Menurut CHOP’s Center for Violence Prevention, banyak anak membully karena merasa tidak aman dengan dirinya sendiri. Membully bisa menjadi cara mereka untuk merasa lebih berkuasa atau populer. Ada juga yang meniru perilaku agresif yang mereka lihat di rumah.

Dalam beberapa kasus, anak-anak tidak tahu bahwa mengolok-olok perbedaan baik dari segi penampilan, agama, ras, maupun kemampuan adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Sayangnya, jika tidak segera diintervensi, perilaku ini bisa menjadi pola berulang dan terbawa hingga dewasa.

Cara Mencegah Anak Menjadi Pembully:
1. Perilaku agresif bisa muncul sejak usia taman kanak-kanak. Ketika anak menunjukkan perilaku eksklusif atau tidak berbagi, penting untuk segera mengajarkan empati. Sebagai contoh, orang tua dapat menanyakan, “Bagaimana perasaanmu jika temanmu tidak mau berbagi mainannya?” untuk melihat bagaimana respons anak terhadap penolakan.
2. Menjadi Teladan di Rumah. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua sering melampiaskan emosi dengan marah atau berkata kasar, anak bisa meniru pola tersebut. Ciptakan suasana rumah yang menghargai perbedaan, saling mendukung, dan terbuka terhadap emosi.
3. Ajarkan Pengendalian Diri. Ajarkan anak untuk menenangkan diri saat marah. Bisa dimulai dari menarik napas, menghitung sampai sepuluh, atau membayangkan hal yang menyenangkan sebelum bereaksi terhadap amarahnya. Keterampilan ini membantu mereka dalam menyelesaikan konflik secara sehat.
4. Bangun Komunikasi Terbuka. Luangkan waktu setiap hari untuk berbicara dengan anak. Tanyakan tentang bagaimana harinya berlangsung, lingkungan pertemanannya, dan bagaimana perasaannya. Komunikasi rutin ini menciptakan ruang aman agar anak mau terbuka saat menghadapi masalah.
5. Tanamkan Rasa Hormat dan Kepedulian. Tegaskan bahwa semua orang layak dihormati, terlepas dari latar belakang atau penampilannya. Libatkan anak dalam kegiatan sosial yang dapat memperkenalkan mereka dengan teman-teman dari latar belakang berbeda.
6. Kenali Lingkungan Sosial Anak. Bicaralah dengan guru, teman, dan orang tua dari teman-teman anak. Pahami tekanan sosial apa yang dihadapi anak di sekolah. Jika lingkungan pertemanannya cenderung agresif dan tidak sehat, arahkan anak untuk menjalin pertemanan yang lebih sehat.
7. Berikan Konsekuensi dan Apresiasi. Jika anak menunjukkan perilaku bullying, berikan konsekuensi yang bermakna, misalnya, mencabut akses ke gadget milik mereka jika mereka membully melalui media sosial. Sebaliknya, beri pujian saat anak menyelesaikan konflik dengan cara damai. jika bullying terjadi di lingkungan sekolah, ajak guru dan staf sekolah untuk membuat rencana tindakan bersama. Apabila anak mengetahui bahwa perilaku mereka diawasi dan dinilai oleh lingkungan, mereka cenderung lebih berhati-hati dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Source link