Menyusui di Tempat Umum: Pandangan 1 dari 3 Orang Indonesia

Menyusui merupakan kegiatan yang seharusnya biasa dilakukan oleh ibu di tempat umum, namun masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC), terungkap bahwa sekitar 1 dari 3 orang Indonesia masih memiliki persepsi negatif terhadap ibu yang menyusui di ruang publik. Menurut peneliti utama HCC, Ray Wagiu Basrowi, sebanyak 30 persen dari responden merasa tidak nyaman melihat ibu menyusui di tempat umum.

Ray bersama timnya melakukan survei online terhadap 731 responden pada bulan Agustus 2025. Hasil survei ini mengungkapkan bahwa sebagian besar responden merasa gelisah, tidak setuju, atau bahkan menolak ketika melihat ibu menyusui di tempat umum. Beberapa responden bahkan berpendapat bahwa ibu hanya boleh menyusui di ruang khusus, bukan di tempat umum terbuka.

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak stigma dan ketidaknyamanan terkait menyusui di ruang publik, meskipun menyusui seharusnya adalah hak alami bagi ibu dan anak. Ray berpendapat bahwa masyarakat seharusnya mendukung kegiatan menyusui di tempat umum agar para ibu tidak merasa tidak nyaman atau terpaksa menyusui di tempat yang tidak higienis seperti toilet.

Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar, juga menegaskan bahwa menyusui di manapun dan kapan pun itu penting karena merupakan hak anak. Menyusui di tempat umum juga membantu menciptakan lingkungan yang inklusif bagi ibu menyusui. Meskipun adanya ruang laktasi di berbagai tempat bisa membantu, namun penting untuk memperjuangkan hak ibu untuk menyusui di ruang publik tanpa diskriminasi.

Dengan meningkatkan edukasi dan dukungan sosial, diharapkan kegiatan menyusui di ruang publik akan semakin diterima secara luas dan dianggap sebagai hal yang wajar serta penting bagi kesehatan ibu dan bayi. Hal ini dapat membantu menghilangkan stigma negatif terhadap ibu yang menyusui di tempat umum dan memperkuat praktik menyusui eksklusif untuk memberikan nutrisi optimal bagi bayi.

Source link