Job Hugging Muncul Saat Pekerja Takut Ambil Risiko di Tengah Ekonomi yang Guncang
Di saat pasar kerja masih dibayangi ketidakpastian, banyak pekerja justru memilih menahan diri. Mereka tidak buru-buru pindah, tidak agresif mengejar tawaran baru, dan lebih nyaman bertahan di posisi sekarang. Fenomena ini dikenal sebagai job hugging, sebuah kecenderungan baru yang menonjol di tengah ekonomi yang rapuh dan ancaman PHK yang masih terasa di banyak sektor.
Dari Job Hopping ke Job Hugging
Jika beberapa tahun lalu para pekerja muda ramai-ramai melakukan job hopping demi kenaikan gaji dan peluang karier yang lebih cepat, situasinya kini berbalik. Pada 2021 dan 2022, berpindah kerja dianggap langkah cerdas untuk memperbesar pendapatan. Namun, ketika kondisi ekonomi makin tidak menentu dan gelombang pemutusan hubungan kerja meluas, banyak orang memilih pendekatan yang lebih defensif: tetap di tempat yang ada, meski tanpa perkembangan yang jelas.
Dalam konteks ini, job hugging bukan sekadar soal loyalitas. Bagi sebagian pekerja, ini adalah cara paling aman untuk menjaga pendapatan dan menghindari risiko di tengah pasar tenaga kerja yang lesu. Pilihan itu memang memberi rasa aman untuk sementara, tetapi juga bisa menahan langkah karier mereka sendiri.
Stabil, tetapi Belum Tentu Bertumbuh
CEO Summit Group Solutions, Jennifer Schielke, menilai job hugging kerap menciptakan kesan kesetiaan yang menenangkan di permukaan, padahal di baliknya ada stagnasi. Menurutnya, perusahaan tidak boleh langsung menganggap bertahannya karyawan sebagai tanda komitmen yang sehat. Stabilitas dan keterikatan kerja, kata dia, tidak selalu berjalan seiring.
Karena itu, perusahaan perlu lebih aktif menyediakan bimbingan, pengembangan, dan ruang pertumbuhan bagi karyawan. Tanpa itu, pekerja hanya akan bertahan karena terpaksa, bukan karena merasa benar-benar terlibat. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini justru bisa membuat organisasi kehilangan energi dan daya saing.
Pasar Lesu, Karyawan Menunggu Momentum
Laporan Glassdoor Worklife Trends 2025 menunjukkan bahwa banyak pekerja merasa seolah terjebak di karier mereka saat ini karena pasar kerja sedang lemah. Situasi ini mendorong mereka untuk menunda keputusan besar, termasuk pindah kerja. Meski demikian, rasa aman yang muncul dari job hugging diperkirakan tidak akan berlangsung selamanya.
Ketika pasar mulai membaik, sebagian pekerja kemungkinan kembali membuka peluang baru. Artinya, perusahaan yang ingin menjaga stabilitas tidak cukup hanya mengandalkan kondisi ekonomi yang sulit. Komunikasi yang terbuka, budaya kerja yang kuat, serta perhatian pada sisi manusiawi karyawan menjadi faktor penting agar mereka tidak pergi begitu saja saat kesempatan lain datang.
Di tengah tren ini, pesan yang paling jelas justru sederhana: bertahan bukan selalu berarti berkembang. Bagi pekerja, bertahan bisa jadi pilihan aman. Bagi perusahaan, tantangannya adalah memastikan keamanan itu tidak berubah menjadi kebekuan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












