Urutan Alur Cerita Film X-Men: Simak Agar Tidak Bingung

Bagi penonton yang baru ingin masuk ke dunia X-Men, satu hal hampir pasti langsung muncul: urutannya membingungkan. Franchise ini tidak disusun sesederhana film superhero lain, karena alurnya melompat-lompat antara prekuel, sekuel, spin-off, hingga cerita yang bermain dengan waktu. Akibatnya, menonton X-Men tanpa panduan bisa membuat penonton kehilangan benang merah dari perjalanan para mutan ini.

Kenapa urutan X-Men sering bikin bingung

Sejak film pertamanya rilis pada tahun 2000, X-Men berkembang menjadi salah satu waralaba superhero paling panjang dan kompleks. Bukan hanya soal pertarungan besar dan efek visual, film-film ini juga membawa tema yang lebih dalam, seperti diskriminasi, ketakutan terhadap perbedaan, dan perjuangan kelompok minoritas. Itulah sebabnya, meski jumlahnya sudah lebih dari 13 film dan terus bertambah hingga Deadpool & Wolverine pada 2024, banyak orang tetap ingin tahu alur yang paling masuk akal untuk ditonton.

Urutan cerita yang paling mudah diikuti

Jika ingin mengikuti kronologi cerita, X-Men: First Class (2011) menjadi titik awal yang penting karena membawa penonton ke era 1960-an dan memperlihatkan awal hubungan Xavier dan Magneto. Setelah itu, cerita berlanjut ke X-Men: Days of Future Past (2014), film yang mengandalkan konsep perjalanan waktu dan menjadi penghubung besar antara dua era. Lalu ada X-Men: Apocalypse (2016) dan X-Men: Dark Phoenix (2019) yang melanjutkan garis cerita era tersebut dan menutup rangkaian First Class.

Film-film awal yang dirilis di bioskop

Setelah masuk ke alur utama, penonton bisa kembali ke film pertama yang dirilis, yaitu X-Men (2000), yang memperkenalkan dunia mutan ke audiens luas. Lalu disusul X2: X-Men United (2003) yang memperdalam konflik antarkarakter, sebelum trilogi orisinal ditutup lewat X-Men: The Last Stand (2006). Film ini dikenal karena mengangkat isu “cure” atau penyembuhan mutan, yang menjadi salah satu konflik paling kontroversial dalam seri tersebut.

Wolverine, Deadpool, dan jalur spin-off

Di luar film utama, X-Men juga punya deretan spin-off yang tidak kalah penting. X-Men Origins: Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013) memberi ruang lebih besar untuk kisah Logan, sementara Logan (2017) menjadi penutup emosional bagi karakter yang diperankan Hugh Jackman. Di sisi lain, Deadpool (2016) dan Deadpool 2 (2018) membawa warna berbeda lewat humor liar dan aksi brutal yang justru membuat semesta ini semakin kaya.

Rangkaian itu kemudian dilanjutkan dengan The New Mutants (2020), yang mengambil pendekatan lebih gelap melalui genre horor psikologis. Puncaknya, Deadpool & Wolverine (2024) mempertemukan dua karakter ikonik dalam petualangan multiverse yang melibatkan Time Variance Authority (TVA), memperluas jangkauan kisah X-Men ke wilayah yang lebih dekat dengan konsep multiverse di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Dengan total 14 film dan ragam genre yang berbeda, X-Men bukan sekadar tontonan aksi, melainkan perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana sebuah franchise superhero bisa tumbuh menjadi semesta cerita yang padat, emosional, dan saling terhubung. Bagi yang ingin menontonnya dari awal, memahami urutan alur adalah kunci agar setiap film terasa lebih utuh dan tidak sekadar berdiri sendiri.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.