Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menghadirkan penegasan baru atas satu nama yang lama hidup dalam ingatan gerakan buruh: Marsinah. Melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada aktivis buruh yang dikenal gigih memperjuangkan hak-hak pekerja. Keputusan itu menempatkan Marsinah sebagai salah satu dari 10 tokoh yang menerima penghormatan negara, sekaligus menegaskan bahwa keberaniannya melawan ketidakadilan tak pernah benar-benar hilang dari sejarah.
Dari Nglundo ke pabrik-pabrik Surabaya
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Jawa Timur, dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Hidup dalam keterbatasan ekonomi membuatnya harus menempuh jalan yang tidak mudah sejak awal. Pendidikan dasarnya selesai di Jawa Timur, tetapi keinginan untuk melanjutkan kuliah terhenti karena biaya. Setelah menamatkan sekolah, ia merantau ke Surabaya pada 1989 dan bekerja di sejumlah pabrik, termasuk PT Catur Putra Surya di Porong.
Pengalaman di lingkungan kerja itulah yang kemudian membuka matanya terhadap persoalan yang dihadapi banyak buruh. Di tengah situasi kerja yang keras, Marsinah melihat langsung bagaimana ketidakadilan upah dan perlakuan terhadap pekerja kerap dibiarkan terjadi. Dari sana, ia mulai dikenal sebagai sosok yang tidak ragu bersuara ketika hak-hak buruh diabaikan.
Perlawanan yang berujung tragis
Nama Marsinah semakin menonjol saat ia memimpin aksi protes pada 1993 terhadap ketidakadilan upah buruh. Tekanan yang mereka lakukan sempat membuahkan hasil, karena pihak manajemen akhirnya menyetujui sebagian tuntutan. Namun, kemenangan kecil itu berubah menjadi tragedi besar. Marsinah ditemukan tewas di Desa Jegong, Nganjuk, dengan luka dan bekas penyiksaan yang meninggalkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar.
Kematian Marsinah hingga kini masih menyisakan misteri. Meski begitu, sosoknya justru makin kuat melekat sebagai simbol keberanian kaum buruh dalam menghadapi ketimpangan, terutama pada masa Orde Baru yang dikenal penuh tekanan dan ketidakadilan sosial. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa perjuangan untuk martabat pekerja sering dibayar mahal.
Nama yang tetap hidup di tengah perjuangan buruh
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah menjadi bentuk pengakuan negara atas perjuangan yang ia lakukan semasa hidup. Lebih dari sekadar penghormatan simbolik, keputusan ini mengingatkan bahwa suara seorang pekerja dari desa kecil di Jawa Timur mampu mengguncang kesadaran publik tentang hak dan keadilan. Marsinah kini dikenang bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pejuang yang berani berdiri di garis depan ketika banyak orang memilih diam.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












