Kementerian Pariwisata ikut memberi lampu hijau atas gagasan work from anywhere (WFA) yang diusulkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, selama periode Natal dan Tahun Baru atau Nataru. Kebijakan ini dinilai bisa memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap bekerja tanpa harus sepenuhnya meninggalkan suasana liburan. Di saat yang sama, konsep work from mall (WFM) juga mendapat dukungan sebagai pelengkap dari program BINA Indonesia Great Sale 2025.
WFM Jadi Alternatif di Tengah Libur Panjang
Menteri Pariwisata Widiyanti menyebut dukungan terhadap WFM sebagai langkah yang sejalan dengan upaya menjaga produktivitas sekaligus mendorong pergerakan ekonomi nasional. Dengan memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai ruang kerja alternatif, WFM diposisikan bukan sekadar tren, melainkan opsi praktis bagi pekerja yang ingin tetap profesional di tengah momen liburan akhir tahun.
Konsep ini menawarkan fleksibilitas bagi masyarakat yang ingin bekerja sambil menikmati suasana berbeda. Di satu sisi, pekerjaan tetap berjalan. Di sisi lain, liburan tetap bisa dinikmati tanpa harus benar-benar terputus dari rutinitas kerja.
Supaya Tetap Fokus dan Nyaman
Agar work from mall benar-benar efektif, pemilihan lokasi dan waktu menjadi kunci. Area yang relatif tenang akan membantu menjaga konsentrasi, sementara jam kerja yang tepat dapat mengurangi gangguan dari keramaian pengunjung. Selain itu, perangkat kerja dan koneksi internet perlu dipastikan siap sejak awal agar aktivitas tidak tersendat.
Setelah target kerja selesai, fasilitas mal bisa dimanfaatkan sebagai ruang istirahat atau hadiah kecil untuk diri sendiri. Pola seperti ini membuat WFM terasa lebih seimbang: pekerjaan tetap tuntas, tetapi suasana liburan tidak hilang begitu saja.
Menjaga Produktivitas Tanpa Kehilangan Momen Libur
Meski terdengar sederhana, bekerja dari mal saat liburan akhir tahun menuntut penyesuaian yang cukup serius. Namun dengan persiapan yang tepat, WFM dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi mereka yang ingin tetap produktif tanpa mengorbankan kenyamanan. Dalam konteks Nataru, skema ini sekaligus menunjukkan bahwa liburan dan tanggung jawab kerja tidak selalu harus saling bertabrakan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












