Pelajaran Perang Ukraina dan Iran bagi Sistem Pertahanan Indonesia

Keterhubungan ekonomi global di era modern telah menciptakan peluang sekaligus tantangan baru bagi negara-negara. Farrell dan Newman (2019) mengemukakan bahwa arus keuangan, pertukaran informasi, serta lalu lintas barang antarnegara membuka peluang pemanfaatan sekaligus risiko yang signifikan terhadap stabilitas negara. Situasi ini terasa semakin nyata ketika konflik bersenjata terjadi, seperti yang terlihat dalam Perang Ukraina dan Perang Iran beberapa tahun terakhir. Kedua perang tersebut, meski secara geografis terbatas, mampu memberikan dampak yang terasa hingga ke seluruh dunia.

Dari Perang Ukraina, kita melihat bagaimana ketergantungan pada rantai pasok pangan global menyebabkan berbagai negara terdampak langsung akibat terganggunya jalur ekspor gandum dan hasil pertanian lain. Gangguan ini tidak hanya terjadi karena penurunan produksi, tetapi juga karena distribusi yang tidak lagi berjalan normal akibat konflik di Laut Hitam. Sebelum perang, 90 persen ekspor pertanian Ukraina dikirim melalui pelabuhan di wilayah tersebut. Namun, ketika jalur tersebut terganggu, jalur alternatif melalui sungai atau darat tak mampu menggantikan seluruh kapasitas distribusi. Dampaknya terasa dalam siklus produksi berikutnya, karena gangguan pengiriman bahan baku pupuk dari Rusia dan Belarus ikut mempengaruhi hasil panen negara-negara lain.

Perang Iran memperlihatkan kerentanan pasokan energi dunia. Meski negara itu tidak perlu secara mutlak menutup Selat Hormuz, ancaman serangan terhadap kapal tanker, penggunaan rudal, dan ranjau laut sudah cukup untuk menimbulkan ketakutan dan menambah premi asuransi. Banyak perusahaan pelayaran akhirnya menunda pengiriman. Dampaknya, aliran minyak melalui selat strategis ini anjlok secara drastis, menjadi salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah energi dunia. Ini menunjukkan, negara tidak perlu menutup sepenuhnya sebuah chokepoint untuk menyebabkan kerusakan besar, cukup dengan meningkatkan risiko agar simpul kritis itu tidak lagi aman digunakan.

Dua contoh tersebut membuka pandangan bahwa jaringan ekonomi global tidak otomatis membuat sirkulasinya merata. Titik-titik konsentrasi atau simpul penting tetap ada dan kerentanannya mudah dimanfaatkan dalam situasi krisis. Farrell dan Newman menyebut ini sebagai “chokepoint effect”. Efisiensi selama masa damai justru bisa berubah menjadi titik lemah ketika akses terhadap simpul utama terhambat. Simpul penting tidak selalu berupa pelabuhan atau selat, tetapi bisa juga berupa jaringan data, sistem pembayaran, pusat data, hingga teknologi semikonduktor dan software. Fishman (2025) menekankan bahwa simpul tersebut kini sering digunakan sebagai senjata ekonomi, menerapkan sanksi, pemutusan akses, hingga boikot asuransi untuk membuat negara terisolasi secara ekonomi.

Akibatnya, perang tidak hanya menghancurkan wilayah atau kekuatan militer saja. Gangguan pada ekspor makanan dari Ukraina, atau gangguan pelayaran Selat Hormuz akibat perang Iran, berimbas jauh ke negara-negara yang bergantung pada pasokan pangan maupun energi dari sana. Harga melonjak, pasokan terganggu, ekonomi terguncang—bahkan negara yang tak terlibat langsung dalam konflik turut menanggung beban. Negara seperti Indonesia yang mengimpor berbagai kebutuhan harus memahami bahwa mereka juga berisiko jika salah satu simpul kritis ini terganggu akibat konflik global.

Situasi ini menuntut Indonesia untuk mengkaji ulang strategi pertahanan dan ekonominya. Risiko tidak hanya muncul dari kemungkinan serangan langsung atau invasi, tapi juga dari kemungkinan terputusnya alur pasokan, energi, data, hingga layanan keuangan dan komunikasi ketika terjadi perang di tempat lain. Bentuk ancaman masa kini tidak lagi bersifat militer murni, melainkan sering berupa gangguan yang memutus rantai logistik atau menahan akses ke teknologi penting. Cadangan, jalur alternatif, dan sistem redundansi menjadi kebutuhan mutlak demi memastikan kehidupan ekonomi dan pertahanan tetap berjalan meski terkena dampak tidak langsung.

Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap gangguan pada simpul-simpul vital. Bukan hanya soal pelabuhan atau selat yang menjadi jalur utama perdagangan dan energi, tetapi juga pusat data, kabel bawah laut, terminal energi, jalur distribusi pangan, dan sistem pembayaran antar pulau. Konektivitas yang menjadi kekuatan negeri ini sekaligus membawa kerentanan, dan perang dapat menjadikan titik-titik keterhubungan itu sebagai sasaran. Maka dari itu, ketahanan nasional perlu dibangun dengan identifikasi fungsi-fungsi utama yang harus tetap berjalan jika simpul tertentu gagal digantikan. Pengelolaan interdependensi yang cermat—bukan upaya melepaskan diri dari jejaring global—menjadi sangat penting. Cadangan logistik, jalur transportasi alternatif, dan sistem darurat untuk komunikasi dan energi adalah contoh nyata kebijakan penguatan ketahanan.

Tidak kalah penting, perencanaan pertahanan Indonesia perlu diarahkan pada adaptasi dari sekadar kalkulasi sektoral menuju strategi fungsional, di mana pemerintah mengidentifikasi kebutuhan prioritas seperti bahan pangan, energi, jaringan komunikasi, serta kemampuan cepat memulihkan simpul kritis yang terdampak bencana atau konflik. Ini artinya, kemampuan untuk mendeteksi potensi kegagalan pada simpul utama—apakah itu dalam bentuk pelabuhan, jaringan finansial, atau sistem data—dan kapasitas untuk menjaga agar fungsi-fungsi tersebut tetap berjalan adalah inti dari kesiapsiagaan nasional.

Akhirnya, pelajaran dari Ukraina dan Iran bukan soal melepaskan diri dari ketergantungan, melainkan memahami bahwa perang dan konflik justru menyoroti kelemahan jaringan global pada simpul-simpul kunci. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa siap menghadapi serangan militer, tetapi juga seberapa tangguh menopang simpul strategis ketika krisis eksternal terjadi. Jangan sampai cita-cita anak Indonesia untuk menggapai masa depan harus terhambat hanya karena kegagalan pada satu titik penting, seperti akses edukasi atau infrastruktur. Konektivitas dan kesiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk harus menjadi bagian utama dari strategi nasional, agar setiap warga tetap bisa meraih kesempatan terbaik di tengah tantangan global yang tak menentu.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas