Ukuran Kacamata Berubah? Waspadai Penyakit Kornea

Ukuran minus atau silinder yang berubah cepat tidak selalu berarti gangguan refraksi biasa. Jika perubahan itu disertai pandangan berbayang, distorsi, atau silau berbentuk halo yang semakin mengganggu, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya irregularitas maupun penyakit progresif pada kornea.

Dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Sharita R. Siregar, menjelaskan bahwa bentuk dan kelengkungan kornea berperan penting dalam munculnya miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder. Kelainan pada permukaan kornea dapat membuat cahaya tidak jatuh secara tepat pada retina sehingga kualitas penglihatan menurun.

Perbedaan astigmatisme reguler dan tidak teratur

Menurut Sharita, astigmatisme reguler terjadi ketika kelengkungan kornea masih mengikuti pola yang teratur. Kondisi ini umumnya dapat dikoreksi menggunakan kacamata. Namun, pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik dan menimbulkan gangguan penglihatan yang tidak selalu membaik dengan sekadar mengganti resep kacamata.

“Pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur dan umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata. Sementara pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo,” kata Sharita pada Rabu, 29 Juli 2026.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat maupun jauh. Sekitar 1 miliar kasus di antaranya sebenarnya dapat dicegah atau belum memperoleh penanganan yang tepat. Secara global, gangguan refraksi dan katarak masih menjadi penyebab utama masalah penglihatan.

Kacamata dapat membantu membelokkan cahaya agar objek terlihat lebih jelas. Namun, alat bantu tersebut tidak mengubah atau memperkuat struktur kornea. Karena itu, kacamata masih efektif untuk gangguan refraksi yang stabil, tetapi penggantian kacamata berulang tidak akan menghentikan kerusakan apabila terdapat penyakit kornea yang terus berkembang.

Pemeriksaan tidak cukup hanya mengukur minus

Penentuan penanganan refraksi harus disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Prosedur koreksi penglihatan, baik melalui bedah refraktif berbasis laser maupun metode non-laser, dipilih dengan mempertimbangkan jenis kelainan refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, kestabilan ukuran kacamata, serta kesehatan permukaan mata.

Evaluasi awal juga tidak berhenti pada pengukuran minus atau silinder. Dokter perlu melakukan topografi atau tomografi kornea untuk memetakan kelengkungan permukaan depan dan belakang kornea. Pemeriksaan lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, dan kondisi retina juga menjadi bagian dari penapisan.

Sharita menyebut sejumlah persyaratan umum bagi pasien yang akan menjalani prosedur penanganan refraksi. Pasien setidaknya harus berusia 18 tahun, memiliki ukuran refraksi yang stabil selama minimal 12 bulan, serta tidak sedang hamil atau menyusui. Kornea juga harus memiliki kesehatan dan ketebalan yang memenuhi standar keamanan.

“Pengguna lensa kontak juga perlu melepas lensa untuk jangka waktu tertentu sebelum pemeriksaan agar hasil pemetaan kornea lebih akurat, sesuai arahan dokter,” ujar Sharita.

Gejala yang perlu segera diperiksa

Masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata bila ketajaman penglihatan tetap menurun meski resep kacamata sudah diperbarui. Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah distorsi atau pandangan ganda pada satu mata, silau yang semakin sensitif terutama pada malam hari, serta kebiasaan sering menggosok mata.

Riwayat penyakit kornea, termasuk keratoconus dalam keluarga, juga menjadi alasan untuk menjalani pemeriksaan. Penanganan sejak dini diperlukan agar koreksi penglihatan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada kacamata, tetapi juga membantu mempertahankan kualitas dan stabilitas kesehatan mata dalam jangka panjang.

Source link