Mengapa Retinopati Diabetik Mengancam Kualitas Hidup?

Retinopati diabetik dapat berkembang tanpa mengubah penampilan mata dan tanpa menimbulkan keluhan pada tahap awal. Ketika gejala mulai terasa, kerusakan retina sering kali sudah berlangsung lama dan berisiko mengancam penglihatan.

Guru Besar Oftalmologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Muhammad Bayu Sasongko, menjelaskan retina berada di bagian belakang bola mata sehingga kelainannya tidak dapat dikenali hanya dari pemeriksaan luar. “Retina ini adalah organ bagian dalam, di belakang, di dalam bola mata. Pasien diabetes yang menderita retinopati diabetik itu enggak kelihatan dari luar, bentuk matanya sama, secara kosmetik masih sama,” kata Bayu dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk “Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik” di Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 20 Juli 2026.

Kerusakan berkembang perlahan

Menurut Bayu, retina memiliki aktivitas metabolisme yang tinggi. Kadar gula darah yang tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah kecil di organ tersebut. Pembuluh darah yang semula normal kemudian dapat bocor atau pecah, meninggalkan perdarahan dan endapan protein maupun lemak di retina.

Proses itu tidak berlangsung seketika. Lamanya seseorang hidup dengan diabetes, ditambah hipertensi, kadar lemak tinggi, dan kebiasaan merokok, dapat mempercepat perkembangan kerusakan. Bayu mengingatkan, perbaikan kondisi kesehatan saat ini tidak otomatis menghentikan dampak yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

“Banyak sekali yang bilang, ‘Saya sudah terkontrol, saya sudah berhenti merokok, tensi saya sudah normal.’ Nah, dulu sudah berapa tahun diabetesnya? Hipertensinya berapa belas tahun? Berhenti sekarang itu tidak menyetop argonya. Namun itu tetap berjalan,” ujarnya.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes sekitar 11,7 persen atau sekitar 32 juta penduduk. Namun, hanya sekitar lima juta orang yang tercatat rutin menjalani kontrol kesehatan. Sementara itu, analisis terhadap data BPJS Kesehatan yang disampaikan Bayu mencatat sekitar 15 juta penyandang diabetes telah terdiagnosis dan sekitar 12 juta di antaranya memiliki catatan kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan. Dari kelompok tersebut, sekitar 5,2 juta mengalami retinopati diabetik dan sekitar 1,2 juta membutuhkan tindakan, seperti laser, injeksi, atau operasi.

Skrining diperlukan sebelum penglihatan menurun

Bayu menilai pemeriksaan mata penting dilakukan karena retinopati diabetik dapat muncul tanpa gejala. Secara teori, tanda awal dapat terlihat setelah seseorang hidup dengan diabetes selama lima tahun, ketika penglihatannya masih terasa normal. Jika tidak terdeteksi dan kadar gula darah tetap tidak terkendali, kondisi itu sekitar 10 tahun kemudian dapat berkembang menjadi ancaman bagi penglihatan.

Penurunan fungsi penglihatan juga tidak selalu diawali dengan pandangan gelap. Gejalanya bisa berupa berkurangnya ketajaman, warna yang tampak kurang cerah, atau kesulitan membedakan kontras. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui foto fundus, termasuk menggunakan perangkat portabel.

Karena itu, Bayu bersama sejumlah pemangku kepentingan mengembangkan Diabetic Retinopathy Initiative. Program tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan skrining retina ke layanan kesehatan primer sehingga kelainan dapat ditemukan lebih awal dan pasien segera dirujuk bila memerlukan penanganan.

“Screening itu sangat mudah dan bisa dilakukan di mana saja dengan foto fundus. Yang kami upayakan adalah menghadirkan layanan sesederhana itu sampai ke layanan kesehatan primer supaya bisa diakses lebih luas,” kata Bayu.

Pengalaman pasien setelah perdarahan retina

Anita Permatasari, penyandang diabetes sejak usia 13 tahun, baru mengetahui komplikasi telah menyerang retinanya setelah mengalami perdarahan mata pada 2017, seusai melahirkan anak keduanya. Sebelumnya, ia tidak merasakan keluhan berarti.

Perdarahan berulang membuat Anita menjalani laser, operasi vitrektomi, dan operasi katarak. Penglihatannya sempat tersisa sekitar 30 persen. Ia mengingatkan penyandang diabetes agar tidak menunggu penglihatan memburuk untuk memeriksakan mata.

“Kalau lupa cek mata yang setahun sekali, buat saja pengingat setiap ulang tahun atau awal tahun. Jangan merasa ‘cuma buram sedikit’ lalu tidak diperiksa. Ternyata bisa saja sudah terjadi perdarahan,” ujar Anita.

Ia mengakui pemeriksaan retina dapat terasa tidak nyaman karena memerlukan obat tetes untuk melebarkan pupil. Kondisi itu, menurutnya, kerap membuat pemeriksaan anak ditunda oleh orang tua. Meski harus melewati sejumlah tindakan medis, dukungan kedua anaknya membuat Anita tetap menjalani pengobatan. “Prevention is better than treatment. Screening itu yang paling penting,” katanya.

Source link