Suara anak diminta menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan dan program perlindungan anak. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengatakan pemerintah perlu mendengar langsung aspirasi anak agar pembangunan dan layanan yang disediakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pesan itu disampaikan Veronica saat berdialog dengan sekitar 90 anak dalam kegiatan Jelajah SAPA di Rusunawa Cakung Barat, Jakarta Timur, pada pertengahan Juli 2026. “Kami ingin mendengar langsung aspirasi anak-anak. Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal karena setiap anak berhak merasakan manfaat pembangunan,” kata Veronica, seperti dikutip dari Antara.
Ruang bermain hingga layanan perlindungan
Dalam pertemuan tersebut, anak-anak menyampaikan pandangan mengenai akses pendidikan, ketersediaan ruang bermain, serta layanan perlindungan anak di lingkungan tempat tinggal mereka. Salah satu aspirasi yang muncul adalah kebutuhan terhadap ruang bermain dan lapangan futsal di kawasan Rusunawa Cakung Barat.
Veronica menyatakan masukan itu akan menjadi bahan bagi pemerintah untuk memperkuat penyediaan fasilitas yang ramah anak. Ia juga mendorong anak-anak membangun komunikasi yang baik dengan orang tua, antara lain dengan bersikap sopan saat berbicara, mendengarkan aktivitas sehari-hari orang tua, serta menanyakan cita-cita mereka.
Jelajah SAPA merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 pada 2026. SAPA adalah singkatan dari Sambang, Ajak, Pantau, dan Apresiasi. Program tersebut dirancang sebagai ruang dialog langsung antara pemerintah dan anak-anak untuk menyerap aspirasi sekaligus memantau pemenuhan hak serta perlindungan anak di berbagai daerah.
Menurut Veronica, kegiatan lapangan seperti itu juga memberi kesempatan bagi pemerintah untuk melihat kondisi layanan perlindungan anak secara langsung. Pertemuan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi menciptakan lingkungan aman
Veronica mengajak pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, keluarga, dan pihak terkait lainnya memperkuat kolaborasi melalui Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA). Gerakan ini ditujukan untuk mendorong terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, ramah, dan inklusif bagi anak.
“Saya mengajak seluruh pihak untuk terus menghadirkan lingkungan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, maupun penelantaran. Mari kita pastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, bermain, dan meraih cita-citanya. Perlindungan anak bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat,” ujar Veronica.
Ia menilai anak membutuhkan dukungan yang memadai agar dapat mengembangkan potensi dan mewujudkan cita-cita. Kebutuhan tersebut, menurut Veronica, mencakup ruang bermain, lingkungan yang aman, serta ruang untuk berekspresi.
Gizi sebagai bagian dari hak anak
Dalam kegiatan yang sama, Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) menekankan bahwa pemenuhan gizi merupakan bagian dari upaya memenuhi hak anak untuk tumbuh, berkembang, dan memperoleh perlindungan secara menyeluruh.
Direktur Eksekutif APPNIA Poppy Kumala mengatakan peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. “Selain perlindungan dan ruang yang aman untuk belajar maupun bermain, pemenuhan gizi menjadi fondasi penting agar anak dapat tumbuh sehat, berkembang optimal, dan memiliki kesempatan meraih cita-citanya,” kata Poppy.
APPNIA, kata Poppy, terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi serta mendorong inovasi berbasis riset oleh perusahaan-perusahaan anggotanya. Upaya itu diarahkan untuk membantu memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi sesuai dengan setiap tahap tumbuh kembangnya.












