Bagi mahasiswa dari keluarga kelas menengah, mencari beasiswa sering kali menjadi persoalan tersendiri. Mereka tidak selalu memenuhi kriteria bantuan sosial, tetapi belum tentu mampu membiayai kuliah secara mandiri. Kondisi itu dirasakan Raisiya Rahma, 20 tahun, mahasiswi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menjadi penerima Lotte Shin Kyuk-ho Global Scholarship.
“Di Indonesia sebagai kelas menengah itu cukup sulit mencari beasiswa. Biasanya pemberi beasiswa mencari mahasiswa yang benar-benar berprestasi luar biasa atau yang berasal dari keluarga prasejahtera. Posisi kami agak tricky,” kata Raisiya pada 22 Juli 2026.
Beasiswa yang menyasar mahasiswa kelas menengah
Menurut Raisiya, program beasiswa yang secara khusus memberi ruang bagi mahasiswa kelas menengah masih terbatas. Ia berharap lebih banyak perusahaan menyediakan bantuan pendidikan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi, tetapi tidak berasal dari keluarga prasejahtera.
“Aku berharap beasiswanya bisa terus ada dan menjangkau lebih banyak mahasiswa seperti aku, yang punya prestasi tetapi berasal dari keluarga kelas menengah,” ujarnya.
Beasiswa Lotte merupakan bantuan pendidikan pertama yang berhasil diperoleh Raisiya selama kuliah. Sebelumnya, ia beberapa kali mengikuti seleksi program serupa, tetapi belum lolos. Ia kemudian mendaftar beasiswa Lotte karena persyaratan administrasinya dinilai sederhana.
“Aku pikir enggak ada salahnya mencoba. Berkasnya mudah, enggak pakai esai, nominalnya juga lumayan. Waktu daftar aku sebenarnya enggak berharap banyak,” kata dia.
Dari Universitas Indonesia, hanya lima mahasiswa yang terpilih. Raisiya mengaku bersyukur ketika dinyatakan lolos, terlebih ia menyukai budaya populer Korea. “Aku sangat bersyukur dan sangat excited. Apalagi aku juga suka K-pop dan drama Korea, jadi rasanya senang sekali mendapat beasiswa dari perusahaan Korea,” ujarnya.
Dalam seleksi, pengalaman organisasi dan pengabdian masyarakat menjadi nilai tambah bagi Raisiya. Ia pernah mengajar anak-anak di Pasar Minggu, mengikuti program hibah, serta mendampingi lansia di panti wreda. Berbagai pengalaman itu dicantumkan dalam curriculum vitae.
Bantuan tersebut membantu membayar uang kuliah tunggal yang mencapai Rp10 juta per semester. Namun, bagi Raisiya, manfaat beasiswa tidak berhenti pada nominal bantuan. “Bukan cuma soal nominal. Buat aku ini membuktikan bahwa aku bisa berkembang sejauh ini,” katanya.
Memotivasi penerima untuk terus berprestasi
Penerima lainnya, Thirasilani Mettiko, merupakan mahasiswi semester empat Jurusan Farmasi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Ia mengetahui pembukaan beasiswa dari grup angkatan yang dibagikan dosen dan pihak administrasi kampus. Tahun sebelumnya, Thira berniat mendaftar, tetapi terlambat karena periode pendaftaran sudah berakhir.
Tahun ini, ia mengajukan diri melalui jalur prestasi dengan melampirkan sertifikat penghargaan, rekomendasi ketua program studi, serta kartu hasil studi yang menunjukkan indeks prestasi kumulatif. Salah satu prestasinya adalah juara pertama lomba membaca Paritta atau kitab suci agama Buddha tingkat nasional ketika sudah berstatus mahasiswa.
Thira mengatakan beasiswa itu membuatnya lebih bersemangat mempertahankan prestasi akademik. “Dampaknya, saya jadi lebih semangat berkuliah. Saya tahu mendapatkan beasiswa itu susah, jadi saya tidak mau menyia-nyiakannya,” ujarnya.
Bantuan tersebut juga meringankan beban orang tuanya yang menjalankan usaha katering rumahan. Adiknya saat ini juga menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan biaya kuliah Farmasi Atma Jaya mencapai sekitar Rp12 juta per semester.
Thira bercita-cita menjadi apoteker di industri farmasi dan bekerja dalam penelitian laboratorium. Ia berharap lebih banyak perusahaan swasta mengikuti langkah Lotte karena kesempatan mendapatkan beasiswa masih terbatas.
50 mahasiswa menerima bantuan
Lotte Shin Kyuk-ho Global Scholarship diselenggarakan Lotte Group melalui Lotte Foundation bagi mahasiswa program Sarjana dan Diploma IV yang memiliki prestasi akademik serta membutuhkan dukungan finansial. Setiap penerima memperoleh bantuan USD450 per semester atau USD900 per tahun.
Pada penyelenggaraan tahun ke-17 di Indonesia, sebanyak 50 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi mitra menerima beasiswa tersebut. Masing-masing kampus mendapat kuota lima penerima. Perguruan tinggi itu terdiri atas Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Prasetiya Mulya, Universitas Atma Jaya Jakarta, Universitas Islam As-Syafi’iyah, Universitas Nasional, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan Politeknik Pariwisata NHI Bandung.
Chairwoman Lotte Shin Kyuk-ho Global Scholarship Haesun Chang mengatakan program tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan potensi, wawasan, integritas, dan kepedulian sosial generasi muda. President Director PT Lotte Mart Indonesia Song Yanghyun berharap para penerima tidak hanya mencapai prestasi akademik, tetapi juga tumbuh sebagai pemimpin yang mampu berkontribusi bagi masyarakat dan Indonesia.












