Anak Pendek Tak Selalu karena Genetik atau Kurang Gizi

Perawakan pendek pada anak tidak bisa langsung dianggap sebagai akibat keturunan atau kekurangan gizi. Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan, menekankan pentingnya memastikan terlebih dahulu apakah kondisi tersebut merupakan variasi pertumbuhan normal atau tanda penyakit.

“Yang paling penting sebetulnya memastikan dulu bahwa apakah anak kita pendek karena sakit atau tidak,” kata Aman dalam bincang-bincang daring bersama RS Pondok Indah Group bertopik “Pengaruh Hormon dalam Pertumbuhan”, Rabu, 22 Juli 2026.

Kurva pertumbuhan membantu menemukan penyebab

Menurut Aman, penilaian tidak cukup dilakukan dengan melihat tinggi badan anak pada satu waktu. Pertumbuhan perlu dipantau sejak bayi melalui kurva pertumbuhan yang diisi secara berkala. Dari catatan tersebut, dokter dapat melihat pola pertumbuhan dan menilai apakah tinggi badan anak masih mengikuti jalur yang sesuai atau justru mengalami perlambatan.

Anak yang bertubuh pendek karena faktor genetik, biasanya tetap tumbuh secara konsisten pada jalurnya. Kondisinya berbeda dengan anak yang mengalami gangguan hormon. Pada kasus tersebut, kurva tinggi badan dapat terus menurun dan keluar dari jalur pertumbuhan normal.

Selain faktor keturunan dan hormon, sejumlah penyakit juga bisa menghambat pertumbuhan. Sindrom Turner pada anak perempuan serta riwayat kecil masa kehamilan (KMK) termasuk kondisi yang dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan. Faktor sosial, ekonomi, dan emosional keluarga juga turut mempengaruhi pertumbuhan anak.

Stunting bukan satu-satunya penyebab tubuh pendek

Gangguan pertumbuhan yang paling banyak terjadi pada anak Indonesia adalah stunting akibat kekurangan gizi kronis. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting pada balita mencapai 19,8 persen. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) juga mencatat prevalensi bayi yang lahir dengan panjang badan kurang dari 48 sentimeter mencapai 19,8 persen.

Namun, Aman mengingatkan bahwa setiap anak bertubuh pendek tidak bisa langsung diberi label stunting. Ia menyebut masih ada anak yang dirujuk dengan sebutan tersebut, padahal penyebabnya dapat berupa gangguan hormon, kelainan genetik, atau penyakit kronis lainnya.

“Penyebab pendek bukan hanya stunting ataupun nutrisi, bisa (karena) kelainan hormon,” ujar Aman. Ia menjelaskan, “Stunting itu adalah pendek yang disebabkan malnutrisi kronik ataupun penyakit kronik.”

Gangguan pertumbuhan akibat kondisi non-gizi, seperti kekurangan hormon pertumbuhan atau growth hormone deficiency, tergolong jauh lebih jarang. Di dunia, angka kejadiannya diperkirakan sekitar satu dari 4.000 hingga 10.000 kelahiran.

Aman juga mengingatkan orang tua agar tidak mengandalkan makanan bergizi atau susu tinggi kalori untuk mengatasi semua kasus tubuh pendek. Jika penyebabnya adalah gangguan hormon, perbaikan asupan makanan saja tidak cukup untuk mengatasi masalah tersebut.

Orang tua disarankan rutin mengukur tinggi badan anak dan mencatatnya pada kurva pertumbuhan. Konsultasi dengan dokter diperlukan bila tinggi anak jauh di bawah standar usianya, pertumbuhannya melambat dari waktu ke waktu, atau tinggi badannya tidak sesuai dengan tinggi orang tuanya.

“Pastikan semua anak itu mendapat haknya, dimonitor pertumbuhan dan perkembangannya, untuk ini tentulah butuh nutrisi butuh lingkungan yang baik dan dari awal itu yang paling penting bahkan sebelum dia lahir,” tutur Aman.

Source link