Dinas Kesehatan DKI Jakarta saat ini sedang bertindak untuk menangani dampak banjir dengan menggunakan enam sistem subkluster yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dalam penanganan krisis.
“Ada enam sistem subkluster dengan tujuan meningkatkan koordinasi, kolaborasi dan integrasi dalam penanggulangan krisis,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati kepada pers di Jakarta, Sabtu.
Sistem subkluster pertama adalah pelayanan kesehatan, yang menyediakan pelayanan kesehatan perorangan terutama pelayanan pertolongan darurat prafasilitas pelayanan kesehatan dan rujukan. Sistem subkluster kedua adalah pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan yang ditugaskan untuk melakukan pengendalian penyakit dan upaya kesehatan lingkungan. Sementara sistem subkluster ketiga adalah kesehatan reproduksi, yang bertugas menjalankan kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi.
Tidak hanya itu, Dinkes DKI Jakarta juga telah mengingatkan masyarakat mengenai penyakit yang sering muncul saat musim hujan dan banjir seperti diare, demam tifoid, dermatitis, leptospira, tetanus, gigitan ular serta Demam Berdarah Dengue (DBD).
Dinkes DKI Jakarta juga mengimbau seluruh masyarakat Jakarta untuk selalu menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga imunitas tubuh, menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pembersihan pascabanjir, dan melakukan isolasi.
Selain itu, pencegahan DBD juga bisa dilakukan dengan menerapkan 5M Plus, yaitu menguras atau membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat-tempat penampungan air, daur ulang barang bekas, mengganti air di pot tanaman setiap hari, dan menimbun barang-barang bekas atau plastik sampah yang digenangi air hujan seperti ban bekas.
Semua langkah ini diambil dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit yang kerap muncul saat musim hujan dan banjir.












