Keracunan Merkuri: Jenis dan Gejala yang Perlu Diketahui

Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan kadar merkuri yang melebihi ambang batas pada ikan budi daya di Waduk Cirata, Jawa Barat. Persoalan ini bukan hal baru, melainkan telah berlangsung cukup lama akibat aktivitas pertambangan dan industri di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Merkuri adalah unsur kimia yang bersifat toksik dan berpotensi membahayakan tubuh manusia, terutama jika masuk dalam sistem metabolisme melalui makanan, udara, atau kontak langsung. Ketika terpapar dalam jumlah berlebih, dapat menyebabkan kondisi keracunan merkuri yang merusak organ penting seperti otak, ginjal, dan sistem saraf.

Ada tiga jenis merkuri yang perlu diwaspadai, yaitu merkuri elemental (logam cair), merkuri anorganik, dan merkuri organik. Masing-masing memiliki dampak berbahaya dengan karakteristik dan jalur paparan yang berbeda. Paparan merkuri bisa berdampak pada siapa saja, tetapi kelompok rentan meliputi anak-anak, ibu hamil, dan janin dalam kandungan. Gejala keracunan merkuri bervariasi tergantung pada bentuk merkuri yang masuk dan jalur paparannya, seperti gejala paparan merkuri elemental (terhirup), merkuri anorganik (tertelan), dan merkuri organik (konsumsi jangka panjang).

Penting untuk waspada terhadap gejala keracunan merkuri agar bisa mengidentifikasi kondisi tersebut dengan tepat dan segera mendapatkan penanganan yang diperlukan. Salah satu langkah penting adalah membatasi konsumsi ikan yang mengandung merkuri tinggi, terutama bagi ibu hamil atau menyusui. Jaga kesehatan dan selalu waspada terhadap paparan merkuri di lingkungan sekitar demi mencegah risiko keracunan yang berbahaya.

Source link