Prabowo Dorong Koperasi Desa Merah Putih untuk Putus Cengkeraman Tengkulak dan Rentenir
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai alat penting untuk memperkuat ekonomi warga desa sekaligus mematahkan praktik lama yang selama ini menekan petani. Dalam peresmian program itu di Desa Bentangan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Prabowo menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar wadah usaha, melainkan jalan keluar dari dominasi tengkulak dan rentenir yang kerap membuat petani berada dalam posisi lemah.
Masalah Lama yang Menjerat Petani
Prabowo mengingat bahwa persoalan petani bukan hal baru baginya. Sejak menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada 2004, ia sudah melihat bagaimana hasil panen sering terbuang sia-sia karena minimnya truk dan fasilitas penyimpanan. Kondisi itu membuat kerja keras petani tidak selalu berujung pada keuntungan yang layak.
Ia juga menyoroti rumitnya akses terhadap pupuk bersubsidi. Menurutnya, birokrasi yang berbelit justru membuat petani kesulitan memperoleh kebutuhan dasar untuk produksi. Di sisi lain, saat panen tiba, harga kerap ditekan tengkulak sehingga posisi tawar petani semakin lemah.
Koperasi Sebagai Jalan Keluar
Prabowo menilai tekanan ekonomi di desa tidak berhenti di sawah. Kebutuhan rumah tangga yang mendesak sering memaksa petani mencari pinjaman cepat, bahkan kepada rentenir dengan bunga harian tinggi. Dalam situasi seperti itu, petani berada dalam lingkaran masalah yang terus berulang: hasil panen rendah, biaya produksi berat, lalu utang makin menumpuk.
Melalui Koperasi Desa Merah Putih, Prabowo berharap ada sistem yang lebih kuat untuk membantu petani mengelola hasil panen, memperbaiki akses kebutuhan usaha, dan memberi perlindungan ekonomi di tingkat desa. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa langkah ini bisa memutus rantai persoalan yang sudah berlangsung lama dan membuka ruang yang lebih adil bagi petani di Indonesia.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


