DBD Sering Dikira Flu oleh Pasien, Dokter Ingatkan Deteksi Dini
Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) cenderung meningkat setiap musim hujan karena lingkungan yang mendukung nyamuk Aedes aegypti. Pasien sering menganggap remeh demam akibat DBD, dengan banyak mengira gejala awal hanya flu biasa. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi berat seperti syok dengue yang berujung pada kematian, kata Dr. Kharina Helhid dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta.
Anak-anak dan lansia rentan terhadap komplikasi DBD. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 55 ribu kasus DBD di Indonesia hingga Mei 2025, dengan 439 jiwa meninggal. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah kasus tertinggi.
Gejala DBD muncul mulai empat hingga 10 hari setelah gigitan nyamuk, dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, mual, dan muntah. Sakit kepala, sakit di belakang mata, kelenjar bengkak, nyeri perut, perubahan tekanan darah, dan penurunan jumlah trombosit juga perlu diwaspadai. DBD pada anak pun memiliki gejala mirip orang dewasa namun bisa memperlihatkan tanda-tanda peringatan lebih cepat.
Dr. Kharina Helhid menekankan metode 3M Plus untuk mengantisipasi peningkatan DBD, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur, ditambah tindakan larvasida, menggunakan kelambu, dan fogging. Seminar kesehatan “Waspada Demam Berdarah: Cegah dan Tangani Sejak Dini” di Bandung turut memberikan informasi penting tentang DBD, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit ini. Edikasi dan pengetahuan yang lebih baik diharapkan dapat membantu dalam pencegahan penyakit ini.












