Dampak Jangka Panjang Bullying: Studi dari Tempo.co

Bullying atau perundungan bukan sekadar konflik biasa antara anak-anak, melainkan merupakan masalah serius yang berdampak jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang menjadi korban bullying memiliki risiko tinggi mengalami gangguan mental dan kesehatan yang dapat berlangsung hingga dewasa.

Dikutip dari McLean Hospital, bullying merupakan pola agresi yang disengaja dan berulang, yang ditujukan kepada individu yang dianggap lebih lemah. Dampak dari bullying tidak hanya dirasakan secara langsung, tetapi juga dapat menghantui korban dengan dampak sosial, mental, dan fisik dalam jangka panjang.

Berbagai dampak yang dapat disebabkan oleh bullying antara lain adalah dampak psikologis. Korban bullying cenderung mengalami kesulitan dalam berkembang secara sosial, menunjukkan perilaku yang kekanak-kanakan, dan mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan gangguan makan. Gejala internal seperti rasa takut, sedih, dan khawatir juga sering muncul pada korban bullying.

Selain dampak psikologis, bullying juga dapat menyebabkan keluhan fisik atau gejala psikosomatik. Anak-anak yang dirundung dapat mengalami sakit kepala, susah tidur, sakit perut, dan kelelahan. Mereka juga rentan untuk melakukan self-harm, mengalami eating disorder, atau bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Bullying juga berdampak pada prestasi akademik dan keterlibatan sosial korban. Banyak anak yang menjadi korban bullying merasa takut pergi ke sekolah, enggan ikut kegiatan ekstrakurikuler, dan mengalami penurunan nilai. Mereka sering merasa terasing dan kehilangan minat pada aktivitas yang disukai.

Menariknya, tidak hanya korban, pelaku bullying juga rentan terhadap dampak jangka panjang. Anak-anak yang suka merundung orang lain berisiko terlibat dalam perilaku antisosial, memiliki prestasi akademik rendah, dan sulit membawa tanggung jawab atas tindakan mereka. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pelaku bullying juga pernah mengalami trauma atau kekerasan di lingkungan rumah, yang kemudian berdampak pada perilaku negatif terhadap teman sebaya.

Source link