Kentang goreng merupakan salah satu camilan yang populer, terutama di restoran cepat saji. Namun, kentang goreng yang dijual di restoran-restoran cepat saji memiliki kandungan glukosa yang lebih tinggi dan nutrisi yang lebih rendah dibandingkan dengan kentang goreng yang dibuat di rumah. Hal ini disebabkan oleh praktik restoran cepat saji yang mengupas kulit kentang sebelum digoreng dan menambahkan gula dan garam untuk meningkatkan rasa kentang goreng.
Menurut ahli nutrisi Integral Wellness, Caroline Roberts, kandungan pati kentang yang tinggi dalam kentang goreng berkontribusi pada indeks glikemik yang tinggi. Hal ini membuat kentang goreng menjadi tidak disarankan untuk penderita diabetes tipe 2, karena dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat setelah dikonsumsi. Selain itu, kentang goreng beku yang dijual di supermarket juga mengandung aditif berupa pengawet, pengemulsi, dan minyak olahan yang dapat berdampak buruk pada kesehatan tubuh.
Studi juga menunjukkan bahwa konsumsi kentang goreng lebih dari tiga kali dalam seminggu dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Oleh karena itu, disarankan untuk mengganti kentang goreng dengan makanan biji-bijian atau mengubah metode memasaknya menjadi direbus atau dipanggang tanpa menggunakan bahan tambahan yang berpotensi merugikan kesehatan. Dengan demikian, kita dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 dan mendukung gaya hidup yang lebih sehat.












