Informasi gizi anak yang tidak akurat di media sosial dinilai masih menjadi penghambat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak Indonesia. Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) mengingatkan bahwa arus informasi tanpa dasar ilmiah dapat memengaruhi keputusan orang tua dalam menentukan asupan bagi anak.
Direktur Eksekutif APPNIA Poppy Kumala mengatakan ketersediaan pangan bergizi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pemenuhan nutrisi. Orang tua, terutama ibu, juga membutuhkan akses terhadap edukasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pemenuhan gizi pada setiap tahap usia merupakan fondasi tumbuh kembang anak. Namun, fondasi tersebut hanya dapat terwujud apabila orang tua, khususnya ibu, memiliki akses terhadap edukasi gizi yang akurat dan berbasis ilmu pengetahuan,” kata Poppy pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, pada akhir Juli 2026.
Tantangan memilah informasi gizi
Menurut Poppy, banyaknya konten yang beredar melalui media sosial membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi gizi yang memiliki landasan ilmiah dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi ini menjadi tantangan karena pengetahuan orang tua turut menentukan pilihan makanan sesuai kebutuhan anak pada setiap tahapan usia.
“Saat ini banyak informasi beredar di media sosial dan kita tidak selalu bisa memastikan seberapa bertanggung jawab informasi tersebut,” ujarnya.
Untuk memperluas akses terhadap pengetahuan gizi yang tepat, APPNIA bersama perusahaan-perusahaan anggotanya melibatkan akademisi, dokter anak, dan sejumlah pakar. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi dan pemilihan makanan yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.
Poppy menekankan bahwa upaya itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar manfaat edukasi tidak berhenti pada kelompok tertentu. “Kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga industri, harus bersinergi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga,” katanya.
Aspirasi anak dalam Festival Budaya Anak
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 tersebut mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Acara yang dikemas dalam Festival Budaya Anak itu juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi, termasuk mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak Indonesia.
Dalam aspirasi yang dibacakan pada kegiatan tersebut, anak-anak meminta pemerintah memperkuat program pemenuhan gizi. Mereka juga mendorong perluasan edukasi gizi dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kolaborasi untuk memenuhi hak anak
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menyatakan pemenuhan hak anak, termasuk hak memperoleh gizi yang baik, tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat perlu terlibat dalam upaya tersebut.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena hak anak harus dipenuhi semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci,” kata Veronica.
Ia menjelaskan, komitmen memenuhi hak anak sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. Agenda tersebut juga mencakup peningkatan peran perempuan, pemuda, serta penyandang disabilitas.
Veronica mengakui perubahan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Namun, kerja bersama dari pihak-pihak yang memiliki komitmen dinilai dapat menghasilkan dampak nyata. “Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun, ketika semua pihak yang memiliki komitmen dapat bekerja bersama, dampaknya akan nyata,” ujarnya.












